MANAJEMEN AKTIFITAS

I. LATAR BELAKANG
Mahasiswa menurut sebagaian besar kalangan adalah agent of change, agen perubahan yang kehadirannya senantiasa dibutuhkan dalam kehidupan sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang mengakui eksistensi oposisi yang berperan sebagai kontrol kekuasaan dan sosial. Oleh sebab itu, gerakan mahasiswa pada akhirnya dianugerahi suatu kekuatan yang tidak bisa diremehkan, kekuatan yang mampu merubah masa depan bangsa dan negara, masa depan ratusan juta umat manusia, kekuatan yang sebaiknya kita pandang sebagai amanah dan bukan modal jago-jagoan atau gerakan tidak karuan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. Saudaraku, andalah yang sekarang memegang amanah tersebut.
Dalam realitasnya, para pemegang amanah (baca: mahasiswa) memiliki tugas utama yang terkadang dijadikan kambing hitam bagi ketidakaktifannya dalam organisasi . Kuliah pada gilirannya menjadi prioritas yang menimbulkan ketakutan untuk dengan berani mengambil kesempatan belajar dan berjuang di ormawa. Sungguh dalam pandangan saya pribadi, bagi seorang individu yang berhasil memperoleh tempat di Universitas Negeri di republik ini, dimana daya tampung PTN jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah peminat, potensi yang dimilikinya berkapasitas lebih dari cukup untuk sekedar melaksanakan rutinitas kuliah saja, artinya, ia bisa saja memperoleh lebih dari ilmu bidang studi selama kurun waktu kuliah, asal ia mempunyai keinginan untuk beramal dan kapabilitas untuk menunjangnya.

II. MANAJEMEN AKTIFITAS
Mahasiswa sebagai seorang pembelajar, aktifis dan individu mandiri tentunya memiliki berbagai agenda kegiatan yang sesuai dengan tuntutan statusnya. Kerap kali tugas sebagai seorang staff Departemen Pendidikan BEM UPI misalnya, menerabas perencanaan kegiatan belajar menghadapi Ujian Akhir Semester, atau keinginan kita untuk pulang sekedar melepas rindu dengan keluarga terpaksa dibatalkan untuk kesekian kalinya karena kepanitian Seminar Mahasiswa dan Politik menuntut kehadiran kita sebagai ketua pelaksana dalam rapat yang rasanya sudah lebih dari ratusan kali diselenggarakan. Persilangan kepentingan inilah yang seringkali menimbulkan tekanan psikologis, sehingga melahirkan kejenuhan dan kekecewaan dalam berkegiatan. Lebih buruk lagi, banyak aktifis yang pada akhirnya meninggalkan begitu saja amanah yang diembankan kepadanya, seakan amanah adalah sepotong donat yang bisa dimakan apabila kita mau dan ditinggalkan begitu saja kalau kita merasa enggan memakannya.
Apabila ditelaah dengan lebih jeli, persilangan kepentingan yang seakan saling bertubrukan tersebut terjadi karena medan yang akan kita lalui belum dipetakan dengan baik pada saat kita akan melaluinya, dengan kata lain, signifikan artinya bagi seorang mahasiswa untuk mempunyai the whole picture suatu kegiatan sebelum ia memutuskan untuk terjun dalam kegiatan tersebut. Seorang bijak melantunkan nuansa keindahan ketika ia mengatakan bahwa gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Dalam perencanaan kegiatan inilah dibutuhkan kapabilitas manajemen aktifitas. Manajemen aktifitas ialah kemampuan memilah, merencanakan, mengatur dan melaksanakan berbagai macam kegiatan yang memang sudah menjadi keharusan untuk diejawantahkan.

III. MENENTUKAN SKALA PRIORITAS
Prioritas adalah memandang suatu hal lebih penting dibandingkan dengan hal lainnya. Namun ingin saya tekankan, definisi ini hanyalah berlaku dalam berbagai kegiatan, dimana subjek dan penanggungjawab kegiatan tersebut adalah kita sendiri. Sebagai contoh:
– ada waktu luang, apakah mau diisi dengan bermain atau belajar?
– ketika adzan berkumandang, apakah mau bersegera shalat berjamaah atau meneruskan kegiatan?
– Ada uang lebih, apakah mau digunakan untuk membeli buku referensi atau walkman?
Dalam kondisi seperti ini maka penentuan prioritas akan menentukan apa yang kita peroleh. Kitalah subjek dan kitalah penanggungjawab kegiatan. Kita yang menentukan, apakah mau berkembang atau stagnan, mau sholeh apa salah, mau sehat atau sakit. Disinilah prioritas berarti mengorbankan salah satu atau lebih pilihan yang kita pandang kurang pentingnya dibandingkan kegiatan yang kita pilih. Dalam contoh di atas, mungkin kita akan lebih memilih membeli buku referensi dalam suatu waktu tertentu daripada membeli walkman. Artinya, demi manfaat buku yang insya ALLAH akan menambah kapabilitas kognitif apabila dimanfaatkan dengan benar, kita mengorbankan keinginan/kebutuhan membeli walkman. Inilah arti hakiki -menurut hemat saya- dari kata prioritas.
Apabila kemudian kita diharuskan berhadapan dengan kondisi-kondisi sebagai berikut:
– suatu saat kita dituntut untuk mengikuti UAS atau memimpin rapat penting mengenai aksi demonstrasi.
– Kita diminta teman menjaga adik bayinya sampai jam 10.00, padahal pukul 09.00 kita harus berangat ke kampus untuk membuka acara festival nasyid tingkat SMU.
– Kita harus mengikuti dua buah rapat dari dua organisasi yang berbeda secara full dalam waktu yang bersamaan dan tempat yang berjauhan.
Dalam kondisi seperti ini, apabila kita melakukan kegiatan berdasarkan konsep prioritas seperti di atas, maka secara otomatis kita akan menzalimi salah satu amanah. Bila kita memilih untuk mengikuti UAS, maka kita menzalimi sahabat-sahabat kita di organisasi yang mempercayakan amanah memimpin aksi kepada kita. Bila kita memilih rapat persiapan demonstrasi, maka itu berarti kita melalaikan kuliah kita. Demikian pula dengan contoh lainnya. Pengorbanan salah satu kegiatan akan secara otomatis mengorbankan kepercayaan yang dianugerahkan orang lain kepada kita. Janganlah kemudian kita berapologi dengan mengatakan bahwa kegiatan yang satu lebih penting artinya daripada kegiatan yang lain, karena nilai penting satu kegiatan akan sangat bersifat subjektif. Dalam contoh kedua, kita mungkin akan berpandangan bahwa membuka festival nasyid lebih penting artinya daripada menjaga bayi. Penting disana artinya penting dalam perspektif kita, dalam perspektif teman kita (kakaknya bayi tersebut) mungkin bantuan kita menjaga adiknya akan jauh lebih berarti baginya. Lalu bagaimanakah kita menjaga tawazunitas (keseimbangan) dalam melaksanakan berbagai amanah yang kita emban? Disinilah prioritas memiliki arti lain. Dalam kondisi kedua ini, prioritas berarti mengutamakan pemenuhan kegiatan atau jabatan yang menjadi amanah kita sebelum dengan tergesa mengambil amanah lain yang belum tentu dapat kita penuhi operasionalnya. Materi kita pada kesempatan kali akan membicarakan upaya menangani permasalahan ini.
Hal-hal yang harus kita pertimbangkan sebelum memutuskan untuk menerima suatu amanah, adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan kita.
2. Ketersedian waktu .
3. Apabila bisa, memandang seberapa penting kita dibutuhkan untuk memegang suatu amanah.
Dalam kondisi ini, penyusunan amanah/kegiatan berdasarkan derajat ke-urgen-annya hanya dilakukan apabila kita temui momentum kegiatan yang jumlahnya lebih dari satu, dan tidak dapat diupayakan dengan cara lain, kecuali mengorbankan salah satunya. Namun demikian, diharapkan diperhatikan faktor-faktor seperti tersebut di bawah ini, sebelum kita memutuskan untuk memilih salah satu kegiatan:
1. Yang lebih dahulu dijanjikan
2. Keterwakilan tidak sistematis, tapi terkadang
3. Kemaslahatan sangat kondisional, tergantung
4. Nilai strategis mana yang kita pandang lebih
5. Konsekuensi ketidakhadiran penting

IV. MANAJEMEN AKTIFITAS DAN WAKTU
Sebelum memilih aktifitas apa yang akan kita ambil sebagai amanah, ada baiknya kita perhatikan hal-hal berikut:
1. Identifikasi amanah yang sedang dipegang (terkait dengan waktu dan kapabilitas kita melaksanakannya). Apabila kita kurang optimal, maka disarankan tidak mengambil amanah yang lain dulu, tetapi lebih mengoptimalkan pelaksanaan amanah yang sedang diemban.
2. Dimana mampu berbuat, disana kita bekerja.
3. Interest (ketertarikan) kita.
4. Ketersediaan totalitas kita..
Supaya lebih teratur dan efektif kinerja kita dalam mengemban amanah, maka sebaiknya kita perhatikan langkah-langkah yang terkait dengan manajemen kegiatan dan manajemen waktu sebagai berikut:
1. Pahami betul lahan amanah kita.
2. Identifikasi medan dari tiap-tiap amanah.
3. Upayakan pemecahan masalah.
4. Perdalam kapabilitas.
5. Buat group of references.
6. Manfaatkan ciri khas.
7. Kreatif.
Selain itu, ada beberapa tips yang mungkin dapat kita lakukan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas-tugas kita, diantaranya:
1. Pandang amanah dari perspektif yang menyenangkan kita.
2. Buat jargon
3. Aktifitas yang efektif tidak terkait dengan pemendekan waktu pelaksanaan tugas. Aktifitas efektif berarti pelaksanaan kegiatan yang berhasil mencapai target yang diharapkan. Waktu yang pendek adalah konsekuensi dan bukan acuan pelaksanaan kegiatan.

V. PENUTUP
Setiap manusia sudah diamanahi rentang waktu tertentu untuk mempersiapkan dirinya menuju keabadian hidup kelak, sedangkan kita paham, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi saudaranya. Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak lalai dalam mengemban amanah. Semoga kita termasuk barisan orang yang akan menghadap ke majelisNYA dengan anugerah kemuliaan seorang mujahid. Amin.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s