KUNCI KEMENANGAN

Tidak disangsikan lagi bahwa „clash of civilisation“ atau „perbenturan peradaban“ antara Islam dan barat telah betul-betul menjadi paradigma berpikir para pemimpin negara-negara non muslim di dunia. Konsep „clash of civilisation“ ini diungkapkan oleh Huntington pada tahun 1993. Dalam pandangannya, Huntington berkeyakinan bahwa era globalisasi melahirkan efek fundamentalisme agama pada pihak yang merasa ‚kalah‘, memotivasi kelompok minoritas untuk menegaskan kembali identitasnya yang terancam dan mengandung konflik antar peradaban yang mempunyai sifat dan kepentingan berbeda. (Huntington 1993a, 1993b, 2001, Amstrong, 2001 b).
Para pemimpin negara non muslim seperti Amerika dan Inggris yang memang pada saat ini memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik memandang bahwa Islam adalah suatu ajaran yang membahayakan eksistensi mereka. Pemaksaan konsep demokrasi liberal terhadap negara-negara Islam dan upaya-upaya menggulingkan kejayaan negara-negara Islam adalah bukti dari phobia mereka terhadap Islam. Cap teroris yang dikenakan kepada lembaga, negara atau organisasi Islam merupakan rangkaian kata-kata yang sudah begitu absurd dan terbuka dikemukakan. Pemberontakan john garang, seorang kristen yang disokong barat di Sudan, agresi militer AS ke Afghanistan dan Irak, penjajahan Rusia atas Checnya, pengusiran mujahidin asal Arab dari Bosnia, lingkar kristiani Arroyo yang selalu begitu sinis mencibir orang-orang Islam sebagai pemberontak dan teroris dan hegemoni Israel terhadap tanah para nabi Al-Quds merupakan realita dunia Islam saat ini. Suatu upaya sistematis menebas kemuliaan Islam memang sudah di sekitar kita, di hadapan mata.
Apakah sebenarnya yang mendorong mereka untuk bersusah payah melakukan segala daya upaya memerangi kaum muslimin?. Sudah jelas dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa orang kafir tidak akan senang kepada kita sebelum kita mengikuti milah mereka. (Al Baqoroh 182), sikap arogan, merasa diri sebagai kaum paling pantas dijadikan panutan bagi seluruh bangsa di dunia, dan kecintaan kepada dunia sudah merasuki jiwa-jiwa kaum kuffar. Hal itulah yang mendorong mereka untuk memerangi pihak yang dipandang dapat membahayakan posisi dan „kewibawaan“ mereka. Itulah memang yang tampak begitu jelas dalam kehidupan kini.
Mereka dapat dengan segera mengesampingkan segala perbedaan dan perselisihan mereka demi menghancurkan Islam. Kaum katolik dan protestan adalah dua kubu yang selalu terlibat perselisihan berkepanjangan. Di Eropa, kaum katolik dan protestan pernah terlibat dalam perang 30 tahun. Perang yang telah memakan ribuan korban jiwa, bagaikan perang yang sampai saat ini masih berlagsung di Irlandia. Namun dalam usaha menggolkan agenda menghantam kaum muslimin, mereka mampu mengesampingkan perselisihan mereka dan bersatu padu menghadapi Islam. Negara-negara non muslim bersatu dan kerap mengadakan hubungan militer dengan demonstratif dan intent di bawah seruan Amerika melawan jaringan terorisme global yang sebenarnya tidak lain merupakan ciptaan amerika sendiri. Sedemikian solid mereka menghadapi kita, lalu bagaimana dengan kita?
Islam dan muslimin adalah sistem dan kelompok orang yang diakui oleh kaum kafirin sebagai umat yang paling teguh memegang ajaran. Hal ini tentunya menjadi cadas yang menghadang upaya kaum kuffar dalam melebarkan sayap politik, militer dan ideologinya. Sekian lama semboyan „gold, gospel, glory“ mereka kibarkan, namun segala daya upaya mereka tidak memberikan pengaruh sedikitpun terhadap kemegahan Islam, tidak seperti halnya terhadap paham komunisme yang berhasil mereka ciutkan kekuatannya. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi mereka?
Pedoman bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupannya adalah Al Qur’an, hadist dan ijtihad. Sistem yang mulia ini mencakup segala aspek kehidupan manusia, mulai dari adab ke kamar mandi sampai aturan menjalankan suatu negara. Tidak seperti halnya kitab suci agama lain yang benar-benar sangat terbatas hanya selintas membahas hal tertentu, Islam memiliki kelengkapan aturan yang mencakup penanganan berbagai permasalahan sampai akhir zaman. Berangkat dari hal ini, cukuplah bagi seorang mukmin untuk selalu berpegang teguh kepada Islam, menjalankannya dan mengamalkan keindahan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, maka kemuliaan hidup akan otomatis menjadi buah manis yang dapat dipetik darinya. Sungguh, apabila kita selalu menyadari kemuliaan anugrah yang kita pegang saat ini dalam bentuk mushaf, maka mustahil kita akan meninggalkannya walaupun hanya sesaat, karena disanalah kunci kebahagiaan hakiki berada, disanalah jalan menuju kewibawaan hidup di dunia dan di akhirat dapat diperoleh. Kunci bagi kita untuk menghadapi segala rongrongan dan hantaman musuh-musuh Islam tidak lain adalah kembali kepada makna mukmin yang sejati, yang selalu menjalankan roda usianya berlandaskan nilai-nilai Islam yang mulia. Menjadi mujahidun dan bukan qo’idun. Semoga kita mampu meraihnya. Wallahu a‘lam bisshawab

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s