ORANG ASING DI RUMAH KITA

26 Desember 2004, Seorang teman berkebangsaan Amerika menelepon dengan nuansa kesedihan yang terdengar begitu kental dan rasa simpati mendalam dari Philadelpia ketika tsunami melanda serambi mekah dan meluluhlantakkan semua yang dilaluinya. Hanya sekitar delapan jam setelah bencana itu membuat semua aktifitas kita membeku di depan televisi. Ungkapan turut berduka cita dari teman bangladesh yang tengah berada di munich, partner diskusi di rio de janeiro, Aljier, khartoum dan Dacca segera saja bermunculan menghias layar email dalam jeda waktu kurang dari 12 jam setelah kejadian. Dunia, dengan segera mengetahui dan merespon kejadian yang terjadi di ujung barat untaian zamrud khatulistiwa.

Penggalan kisah di atas merupakan ilustrasi mengenai “penciutan dunia”. Perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi yang begitu pesat telah membuat dunia menciut menjadi sebesar layar kaca atau sejauh kaki mau -bukan mampu- melangkah. Dengan demikian, radius wilayah yang kita kenal secara serta merta menjadi sangat luas. Dunia, menjadi bagaikan kampung halaman yang kita kenali sudut barat dan timurnya, kita ketahui apa yang terjadi di dalamnya, namun kerap tidak kita pahami karakteristiknya.

Hal inilah yang kemudian menjadi masalah. Pernahkan anda bayangkan, di salah sudut rumah anda yang luas anda temukan sesosok individu yang asing bagi anda, kira-kira apa yang akan anda rasakan dan respon apa yang akan anda lakukan? Sangat mungkin nuansa emosi yang anda rasakan pada saat itu adalah takut, dan sebagaimana arti emosi yang akar katanya adalah movere yang artinya menggerakan atau bergerak, anda akan cenderung bersikap konfrontatif atau kalau mampu agresif. Mungkin juga anda memilih menghindar, namun bila sosok asing tersebut berada di rumah kita, maka menghindar bukanlah suatu opsi yang baik bila anda tidak siap kehilangan rumah anda atau barang-barang yang ada didalamnya.

Saat ini, pada umumnya semakin mengkristal pandangan setiap bangsa, bahwa dunia adalah ruang lingkup gerak dan hidupnya. Seluruh dunia adalah pasar bagi perekonomian satu negara, dan tempat menyeru permohonan bantuan atas kelaparan, bencana atau pertikaian kronis bagi negara lain. Setiap bangsa menginginkan tatanan dunia berjalan seiring dengan nilai-nilai yang dipandang penting oleh bangsa tersebut, sehingga tercipta lingkungan yang familiar dengan pola hidupnya. Permasalahannya, tidak semua bangsa di dunia ini mempunyai nilai dan corak budaya yang sama atau bahkan mirip.

Ketidakpahaman atau sikap tidak mau memahami budaya bangsa lain pada gilirannya akan melahirkan pandangan serupa dengan ilustrasi di atas. Kondisi psikologis yang sehat akan merespon sesuatu yang asing dengan kewaspadaan. Bila kemudian hal ini tidak diiringi dengan upaya mengenal, maka kondisi yang muncul sebagai konsekuensinya adalah interaksi yang konfrontatif.

Sebuah contoh yang sempat mengusik rasa toleransi dan keramahan kita adalah kasus pelarangan memakai jilbab di institusi pendidikan formal yang diberlakukan di Perancis dan banyak negara bagian di Jerman. Dalam beberapa kasus, pelarangan yang kontroversial ini menuntut diambilnya jalur hukum sebagai “solusi”. Bila dicermati, alasan yang dijadikan argumen dasar oleh pemerintah Perancis dan pemerintah negara-negara bagian di Jerman yang memberlakukan aturan ini benar-benar merupakan sebuah sikap reaktif yang lahir dari lemahnya pemahaman lintas budaya (bila nilai-nilai teologis dipandang sebagai bagian dari budaya atau hal yang melandasi budaya, seperti juga yang dikemukakan oleh Hofstede yang memandang Werte atau sistem nilai sebuah masyarakat sebagai lingkaran terdalam dalam diagram manisfetasi budaya).

Dalam penjelasan yang dikemukakan dalam media Jerman dikatakan bahwa ikon-ikon keagamaan dilarang ditunjukkan di sekolah-sekolah negeri, dan ini berlaku untuk semua agama. Salah satu alasan jilbab dilarang digunakan di institusi pendidikan formal adalah pemikiran bahwa pemakaian jilbab akan mempengaruhi siswa yang notabene dipandang belum “terlalu” mampu memilih nilai mana yang akan diyakininya. Guru atau murid yang mengenakan jilbab dipandang akan mendorong siswa non muslim untuk bertanya dan kemungkinan cenderung untuk menerima nilai-nilai Islam tanpa pemikiran yang mendalam dan dewasa. Di sisi lain pemakaian kalung salib masih diperbolehkan dengan argumentasi, salib kecil lebih berfungsi sebagai perhiasan daripada simbol keagamaan.

Bagi kaum muslimin, ini menjadi kerancuan yang nyata. Bagaimana mungkin jilbab yang merupakan kewajiban bagi seorang muslimah, dengan kata lain bagian dari ibadah dan bukan hanya mode, dilarang pemakaiannya,sedangkan salib kecil yang dipakai sebagai salah satu bentuk perhiasan diperbolehkan? Apakah kewajiban memang kalah oleh hal-hal yang bersifat ornamen? Terlebih pelarangan ini diberlakukan dalam momentum yang juga kontroversial, yaitu peristiwa 11 September. Jawabannya mungkin Cuma satu: kurangnya pemahaman akan nilai jilbab dalam Islam.

Dalam banyak kasus, tidak adanya upaya untuk saling memahami melahirkan ketidakmampuan berintegrasi. Penyebaran angket yang dilakukan oleh Forsa dan dimuat di sebuah majalah terkemuka di Jerman, Stern, yang disebar pada 1003 orang Jerman sebagai responden pada tahun 2004 menunjukkan bahwa sebesar 63% responden memandang kaum muslimin di Jerman kurang mampu berintegrasi dengan masyarakat Jerman, 24% memandang mampu dan sebanyak 13% mengatakan tidak tahu. Bersamaan dengan itu, lemahnya pembauran ini mengakibatkan terhambatnya komunikasi antara kaum muslimin Jerman yang umumnya merupakan imigran dengan penduduk setempat. Sebanyak 35% responden mengaku takut terhadap Islam, 62% responden menyatakan tidak takut dan 3% responden mengaku tidak tahu. Selain itu sebanyak 42% responden mengalami perubahan pandangan pasca peristiwa 11 September terhadap Islam, menjadi pandangan negatif. 55% mengatakan peristiwa WTC tidak berpengaruh apa-apa terhadap penilaiannya akan Islam dan sebanyak 3% responden menyatakan tidak tahu.

Gambaran-gambaran di atas menunjukkan, seakan-akan ada dua wilayah yang bertentangan satu sama lain. Umumnya kita katakan budaya barat dan timur, dan memang selalu terasa ada arti semantik dan intrinsik yang saling bertentangan ketika kita katakan dua corak budaya tersebut. Sangat mungkin kondisi ini mendorong terbuktinya asumsi clash of civilization seperti yang dikemukakan oleh Huntington.

Secara umum, ada dua alasan yang mendasari keseganan mengenal corak budaya yang berbeda. Pertama, adanya kekhawatiran akan kehilangan identitas diri dan kedua, adanya kecenderungan menilai satu hal yang berbeda itu berlawanan, dan hal yang asing pasti berbeda.

Disinilah dibutuhkan sebuah jembatan yang menghubungkan budaya-budaya yang berbeda. Baik dari segi tatanan nilainya, ritualnya ataupun organisasi sosialnya. pengenalan suatu bangsa akan melahirkan kemampuan untuk menempatkan bangsa tersebut secara adil dan proporsional dalam kancah interaksi global, baik dalam kacamata ekonomi, politik maupun budaya. Selain itu, hal ini juga akan mendorong terbangunnya interaksi aktif yang positif antar kedua bangsa, misalnya dalam perdagangan dan pendidikan. Pada akhirnya diharapkan pola hubungan semacam ini akan mereduksi, atau mungkin bahkan menghilangkan titik-titik api yang akhir-akhir ini begitu rentan muncul di permukaan bola dunia.

Upaya membangun pemahaman ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan, yaitu melalui pembelajaran di tingkatan SMU atau universitas, atau melalui program student exchange. Bila di sekolah-sekolah dipelajari sejarah bangsa-bangsa dunia, maka kenapa tidak dipelajari juga bagaimana bangsa itu bersikap dan berbudaya. Selain itu hubungan bilateral tingkat kota (sister cities) juga dapat meningkatkan intensitas dan kualitas interaksi, asalkan tidak hanya bersifat formalitas. Program duta budaya merupakan sarana lain yang dapat digunakan untuk menciptakan keharmonisan. Pendek kata, sudah saatnya dunia bergerak menuju pembangunan pemahaman dan bukan kesamaan, karena kerap kesamaan terbentuk oleh keterpaksaan yang menimbulkan istilah si kuat yang mempunyai hak istimewa dan si lemah yang terampas sebagian haknya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s