Menikahi Wanita yang Sedang Koma Karena Sakit….

berikut saya lampirkan konsultasi syariah dengan ustadz Ahmad Syarwat dari sumber http://www.eramuslim.com

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seperti yang saya lihat di film Ayat-ayat Cinta, ada adegan si lelaki menikahi wanita yang sedang tergeletak tak sadarkan diri karena sakit parah (koma). Apakah sah nikahnya? Karena si wanita pasti tidak sadar bahwa dia sedang dinikahkan dan meskipun mungkin mencintai tapi belum tentu dia mau menikah dengan lelaki tersebut.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

SHB

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita ketahui bahwa akad nikah dalam syariah Islam adalah akad yang terjadi antara seorang ayah dengan laki-laki yang anak menjadi menantunya.

Sang Ayah mengucapkan ijab, yaitu lafadz yang intinya beliau menikahkan si calon menantu dengan anak gadisnya. Dan si calon menantu akan mengucapkan lafadz qabul, yang intinya adalahpersetujuan atas ijab tersebut.

Kalau ijab dan qabul itu terjadi dan disaksikan oleh minimal dua orang laki-laki yang muslim, baligh, aqil, merdeka, dan adil, maka akan nikah itu sah.

Lalu bagaimana dengan si gadis? Tidak adakah peranan yang dimilikinya? Tidakkah si gadis itu harus dimintai persetujuanya?

Dalam hukum seorang gadis dengan ayah kandungnya, kita mengenal istilah wali mujbir, yaitu wali yang punya hak sepenuhnya atas diri seorang gadis. Dari sekian deret orang yang berwenang menjadi wali, yang posisinya sampai berhak ‘memaksa’ hanyalah ayah dan kakek (ayahnya ayah).

Dan kewenangan wali mujbir memang sampai bisa menikahkan si anak gadis, dengan atau tanpa persetujuanya. Setidaknya, akad yang dilakukan oleh seorang wali mujbir itu hukumnya sah.

Namun lepas dari hukum sah atau tidaknya, tentu saja seorang ayah yang melakukan perbuatan pemaksaan terhadap anak gadisnya, dia juga akan ditanya di sisi Allah atas kesewenangan dan kezhalimannya.

Jadi mohon dibedakan dulu antara kewenangan dan kesewenang-wenangan. Keduanya mungkin saja terjadi. Kewenangan adalah hak dalam hukum, namun kesenang-wenangan adalah tindakan yang zhalim.

Sebagai ilustrasi, secara ketentuan almamater, seorang dosen punya kewenangan untuk memberi nilai secara subjektf kepada mahasiswanya. Dia bisa memberi A atau E, semua adalah kewenangan dosen. Bahkan pak Rektor pun tidak hak untuk mencampuri hak atau kewenangan ini.

Namun di sisi lain, bila seorang mahasiswa diberi nilai E oleh seorang dosen secara zhalim, padahal mahasiswa itu berhak dapat A, maka kita katakan bahwa dosen ini telah berlaku sewenang-wenang.

Tapi apakah bisa diubah kewenangannya? Tentu tetap tidak bisa, kecuali bila dosen itu sendiri yang mengubah keputusannya.

Demikian juga dengan kewenangan seorang wali mujbir, dia berhak menikahkan anak gadisnya dengan atas persetujuan atau tidak sama sekali. Juga berhak menikahkannya dengan sepengetahuan anak gadisnya atau tidak sama sekali.

Lalu solusi apa yang paling tepat?

Sederhana saja, seorang anak gadis seharusnya sangat dekat dengan ayahnya. Sehingga sang ayah tidak perlu menggunakan hak preogratifnya dalam hal menikahkan anak gadis itu. Biarkanlah anak gadis menjadi sangat dekat dengan ayahnya, sehingga apa pun yang diinginkan oleh si gadis, ayahnya akan memenuhinya, termasuk dalam hal memilih calon suami.

Maka bagi seorang wanita muslimah yang aktifis, perlu diingat bahwa semua aktifitas Anda menjadi seorang kader atau aktifis, akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya, manakala anda tidak mampu mengambil hati ayah kandung. Sebab biar bagaimana pun, hak dan wewenang ayah kandung itu mutlak dibenarkan dalam syariah Islam.

Kalau seorang wanita datang dengan calon suami ideal pilihannya, tapi sang ayah masih menggeleng, jelas sudah siapa yang menang. Yang menang tentu saja ayah, meski si gadis telah didukung oleh 1.000 ustadz atau ustadzah kondang sekalipun.

Kembali kepada wanita yang sedang koma lalu dinikahkan oleh ayah kandungnya, maka hukumnya sah. Karena persetujuan seorang pengantin wanita tidak termasuk di dalam syarat sah sebuah akad nikah.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s