MANAJEMEN WAKTU

Demi Waktu, Sesungguhnya Manusia

 Berada dalam Kerugian

Oleh: Putrasulung

 

I. LATAR BELAKANG

            Rasanya dunia akan berputar dalam keabadian. Rasanya tak ada kata akhir dalam perjalanan waktu. Rasanya kehidupan datang dan pergi silih berganti sebagai suatu kemonotonan yang sama sekali tak bernilai dan menjadi „acara ceremonial“ dalam pandangan kita, rasanya kita masih kan hidup dalam waktu lama, kematian… tak lain  adalah tamu yang kan berkunjung seribu tahun lagi. Masih lama…. rasanya….

            Orang-orang yang merasa “tahu” dan “paham” mengatakan, bahwa usia harapan hidup orang Indonesia adalah sekitar 60 tahun. Dibandingkan dengan keabadian, 60 tahun hanyalah satu titik temporer yang amat sebentar. Abdul Hamid Al Bilali mengungkapkan  pemahamannya akan ayat-ayat suci Rabbul Izzati, , bahwa beratnya siksa hari kiamat membuat manusia lupa semua perbuatan mereka di dunia. Di antara bentuk lupa mereka ialah mereka berselisih pendapat dan tidak ingat lagi berapa lama sesungguhnya mereka dulu hidup dunia.

 

(yaitu) di hari sangsakala ditiup dan kami kumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka,’Kalian tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sepuluh (hari)’.“

Thaha:102-103

 

Kelompok lainnya berpendapat, sebenarnya hidup di dunia tidak lebih dari satu hari saja1,sedangkan kelompok lain lagi berpendapat hanya setengah hari2, dan ada kelompok yang menandaskan sebenarnya kurang dari setengah hari.

Wahai para aktifis mahasiswa, ketahuilah bahwa waktu yang sekejapan mata ini berarti sekali dalam menentukan tempat kita di alam keabadian kelak. Isi yang kita tuangkan dalam usia kita di dunia merupakan warna yang akan kita tuangkan dalam kehidupan hakiki setelah kehidupan fana ini.

Bayangkanlah bahwa kita berada di suatu daerah, dan kita mendapat kabar bahwa dalam satu jam lagi, daerah tersebut akan dilanda gempa besar dan gelombang tsunami yang jauh lebih dahsyat dari tragedi Aceh. Satu jam dari sekarang… kira-kira, apa yang akan anda lakukan dalam satu jam ini?… Tentu setiap detik dari satu jam ini akan kita isi dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Menyiapkan bahan makanan dan pakaian untuk dibawa mengungsi, menyiapkan kendaraan, menentukan rute evakuasi ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai, mengkonfirmasi sanak saudara… yang pasti tak ada opsi untuk berdiam diri, atau melamun, atau bermain…  

Permasalahan yang kemudian mungkin muncul terumuskan dalam beberapa pertanyaan berikut:

· Berapa jumlah kegiatan yang harus kita lakukan dalam berapa lama waktu?

· Bila ada beberapa kegiatan dalam waktu sempit, bagaimana mengatasinya?


Ilustrasi ini merupakan gambaran dari kehidupan seorang aktifis mahasiswa. Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai peranan yang strategis dan essensial dalam kehidupan sebuah bangsa dan negara. Mahasiswa diharapkan mampu dan mampu menuansai lingkungannya dengan warna yang indah, ketika pihak yang mestinya memperindah lingkungan malah merusaknya, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata pada masyarakat yang tak mampu berkata-kata, diharapkan mampu menyumbang terhadap pihak yang gamang, memberi senyum pada yang manyun, dan membantu yang tak mampu. Di lain pihak, mahasiswa juga manusia, dengan segala kendala, kekurangan permasalahan dan kewajiban sebagai individu dewasa yang mandiri. Pertentangan kedua jenis kepentingan ini dalam kehidupan seorang aktifis mahasiswa di dunia kampus, terwakili dengan idiom organisasi atau akademik? Semoga hari ini diskusi kita akan menghilangkan kata ‚atau’ dalam idom tersebut, dan menggantinya dengan kata ‚dan’.

 

 

 

II. WAKTU DAN AKTIFITAS

            Mengatur waktu akan senantiasa terkait erat dengan pengaturan kegiatan. Kegiatan tertentu kita pilih karena sesuai dengan ketersediaan waktu kita, dan kita menyesuaikan jadwal kegiatan kita -dengan kata lain mengatur waktu- bila kita diamanahi suatu kegiatan tertentu. Hal ini terkait pula dengan status mahasiswa dengan berbagai atribut dan status yang menyertainya.

            Mahasiswa sebagai seorang pembelajar, aktifis dan individu mandiri tentunya memiliki berbagai agenda kegiatan yang sesuai dengan tuntutan statusnya. Kerap kali tugas sebagai seorang staff Departemen Pendidikan BEM UPI misalnya, menerabas perencanaan kegiatan belajar menghadapi Ujian Akhir Semester, atau keinginan kita untuk pulang sekedar melepas rindu dengan keluarga terpaksa dibatalkan untuk kesekian kalinya karena kepanitian Seminar Mahasiswa dan Politik menuntut kehadiran kita sebagai ketua pelaksana dalam rapat yang rasanya sudah lebih dari ratusan kali diselenggarakan. Persilangan kepentingan inilah yang seringkali menimbulkan tekanan psikologis, sehingga melahirkan kejenuhan dan kekecewaan dalam berkegiatan. Lebih buruk lagi, banyak aktifis yang pada akhirnya meninggalkan begitu saja amanah yang diembankan kepadanya, seakan amanah adalah sepotong donat yang bisa dimakan apabila kita mau dan ditinggalkan begitu saja kalau kita merasa enggan memakannya.

Apabila ditelaah dengan lebih jeli, persilangan kepentingan yang seakan saling bertubrukan tersebut terjadi karena medan yang akan kita lalui belum dipetakan dengan baik pada saat kita akan melaluinya, dengan kata lain, signifikan artinya bagi seorang mahasiswa untuk mempunyai the whole picture suatu kegiatan sebelum ia memutuskan untuk terjun dalam kegiatan tersebut. Seorang bijak melantunkan nuansa keindahan ketika ia mengatakan bahwa gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Dalam perencanaan kegiatan inilah dibutuhkan kapabilitas manajemen aktifitas.  Manajemen aktifitas ialah kemampuan memilah, merencanakan, mengatur dan melaksanakan berbagai macam kegiatan yang memang sudah menjadi keharusan untuk diejawantahkan.

 

 III. MANAJEMEN WAKTU

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita telaah terlebih dahulu sebagai langkah awal usaha kita mengatur waktu yang ada. Kita sebut saja misalnya dengan tahap I, diantaranya ialah:

  1. Apa saja amanah (kegiatan) yang tengah kita pegang/jalani saat ini dan apa kegiatan yang ingin kita pelajari.
  2. Identifikasi tiap kegiatan, sehingga kita mengenali kendala, kemudahan, ketertarikan, rentang waktu pengembanan amanah/pelaksanaan kegiatan dan manfaat kegiatan (activity profile).
  3. membuat diagram irisan waktu antar kegiatan.
  4. lakukan re-orientasi tujuan.
  5. fixing kegiatan yang akan dijalani

Kegiatan selanjutnya adalah membuat penjadwalan kegiatan. Sebagian terbesar kesulitan dalam pengaturan waktu, yaitu sebesar 60%3 ada pada tahap pertama seperti telah diuraikan di atas. Satu hal yang harus dicatat dalam penjadwalan kegiatan ialah menentukan prioritas. Kegiatan yang menjadi prioritas ditempatkan pada urutan awal. Namun yang harus dipahami setiap aktifis mahasiswa, kegiatan yang menjadi prioritas tidak sama denga kegiatan utama4. Semua kegiatan harus dipandang utama karena pertanggungjawabannya sama. Kelalaian dalam satu kegiatan dengan alasan apapun, termasuk karena lebih sibuk di satu kegiatan lainnya, akan berimbas pada pembentukan pandangan orang pada kita sebagai orang yang kurang bertanggungjawab dan tidak amanah, dan ingatlah, bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amanah yang kita emban. Hendaknya masalah prioritas ini juga ditelaah pada tahapan membentuk activity profile.

Penjadwalan, atau tahap II, bisa dilakukan melalui tahap sebagai berikut:

  1. Terakan kegiatan yang menjadi prioritas beserta alokasi waktunya. Inilah rencana kegiatan yang cenderung bersifat permanen. Merubah rencana kegiatan prioritas hampir tidak bisa dilakukan mengingat arti dan sifat kegiatan tersebut yang kaku dan essensial. Pada umumnya, kegiatan prioritas adalah kegiatan yang terkait akademik yang perubahan jadwal pelaksanaannya tidak terletak di tangan kita dan umumnya bersifat permanen.
  2. Terakan kegiatan lainnya secara tematis. Missal kegiatan 1, kegiatan 2, dst.
  3. Selalu upayakan peningkatan efektifitas dalam pengembanan kegiatan untuk menciptakan waktu kosong, yang bisa kita isi dengan kegiatan tambahan.

Tahap I disusun untuk menjaga semua kegiatan berjalan pada relnya sehingga tidak terjadi tumbukan antar lebih dari satu kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Namun demikian, sudah tidak asing lagi bahwa beragam kegiatan di kampus sangat berpotensi bertumbukan. Maka dalam ini dibutuhkan pemahaman dan etika kita untuk menentukan solusinya.

 

 

 

3 Fatah Asyari dalam Seminar Psikologi SMUN I Cianjur Th. 1997

4 Makalah Manajemen Aktifitas LKM BEM UPI Th. 2004

Berikut adalah beberapa saran yang bisa diterapkan untuk mengasah kemampuan dan menyiasati pengaturan waktu:

  1. Pahami betul lahan amanah kita.
  2. Identifikasi medan dari tiap-tiap amanah.
  3. Upayakan pemecahan masalah.
  4. Perdalam kapabilitas.
  5. Buat group of references.
  6. Manfaatkan ciri khas.
  7. Kreatif.

 

 

 IV. PENUTUP

            Secuil pemikiran dari seorang bodoh ini diharapakan mampu memberikan kebermanfaatan bagi saudara-saudara yang dicintainya. Semoga ALLAH menjadikan persaudaraan antara kita kuat dan abadi. Kami memohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan. Semoga kita termasuk  barisan orang yang akan menghadap ke majelisNYA dengan anugerah kemuliaan seorang mujahid. Amin.

 

 

 

9 Komentar

  1. Ass… sahabatku yang dicintai Alloh. betapa kehidupan pastinya akan terus bergulir dan sederet amanah telah menunggu kita. setelah amanah yang satu pasti akan ada amanah lain lagi begitu seterusnya,dan penting sekali adanya manajeman waktu namun terkadang ana sebagai ummahat tak pernah punya cukup waktu untuk mengurus amanah-amanah yang diemban. apakah itu halaqoh, anak2 dan suami bahkan diri sendiri. terkadang jadi terbengkalai semua urusan apabila anak tiba2 sakit, karena anak takkan mau pada siapaun kecuali ibunya akhirnya semua kegiatan ditunda bahkan dibatalkan.ana sedih ketika ditanyakan pada seseorang jangan anak dijadikan alasan untuk tidak bisa menghadiri suatu kegiatan penting seperti acara dipartai. tapi ana betul-betul tidak bisa. kadang suka iri pada abinya, beliau bisa melakukan apapun tanpa harus dikhawatirkan oleh urusan anak. bahkan kalau ana pergi liqo saja mesti dibawa anak2. padahal anak itu kan anak bersama bukan anak umminya saja.
    ana paham bahwa anak adalah tanggung jawab umminya, tapi apakah seperti itu islam mengajarkan? ana berpendapat bahwa pernikahan dan punya anak adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri. dituntut adanya kesepahaman dan saling menghargai antar keduanya sehingga akan tercipta sinergi dan keharmonisan dalam setiap permasalahan yang dihadapinya seperti urusan anak ini. ana miris masihnya tiap pasangan menganggap kalau mencari nafkah hanya otoritas ayah dan mendidik anak adalah penuh tanggung jawab ibu… itu salah, bukankah anak itu hasil cinta berdua? dan ketika anak nakal, dan terlibat narkoba yang disalahkan adalah ibunya karena ibu yang selalu ada di rumah, sedangkan bapak sibuk mencari nafkah. ini tidak adil, bukankah Rasulullah selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumah istrinya? juga dalam mendidik anak?. istri pun butuh diajak bekerja sama dalam memikirkan maisyah.
    yang ana butuhkan adalah bgaimana cara manajemen waktu buat ummahat, secara konkritnya. mungkin ada yang bisa membantu.

  2. subhanallah ya, bahasan yang sudah mengkhususkan pada pembahasan manjemen waktu bagi kader (dakwah) yang sudah berkeluarga.
    beberapa saat yang lalu ana sempet berbagi pemikiran dengan seorang ikhwah yang mengajar di SDIT, dan akhuna menyampaikan bahwa banyak anak2 kader yang nakal2, dan ketika ditanya apakah ingin sepeti ummi atau abi, mereka bilang tidak mau, alasannya ummi wa abi sibuk terus, dan konsekuensinya mereka menjadi (agak) terlalaikan.
    bagi setiap ikhwan ditekankan bahwa ketika menjadi suami dan ayah, maka yang pertama berhak memperoleh tarbiyah dari mereka adalah anak dan istri. yang pertama itu. jadi ana kurang sepakat dengan yang mengatakan, “janganlah anak dan istri menghalangi antum dari dakwah” bila artinya adalah mengutamakan orang lain, atau membiarkan istri kerepotan mengurus anak sendiri, atau membiarkan anak berkembang sendiri, maka itu sama artinya dengan dzolim.
    arti ungkapan “janganlah anak dan istri menghalangi antum dari dakwah” adalah janganlah istri menjadi penentang dakwah, menjadi orang yang memandang dakwah sebagai hal yang kurang penting, itu artinya.. anak dan istri adalah amanah titipan ALLAH Robbul a’lamin, “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, “qowwamuna allannisa” dan sederet keterangan lainnya menunjukkan hal ini. ana kira itulah pula salah satu sebabnya ikhwan dinikahkan dengan akhwat tertarbiyah, agar agenda dakwahnya bisa maju, dan bukan tertahan menyadarkan istri yang belum paham terlebih dahulu.
    punten bilih kurang berkenan. hanya pemikiran sederhana seorang bodoh saja. syukron wa afwan

  3. syukron ya akhi… mungkin ana yang salah tapi itu yang ana rasakan sekarang. ana hanya ingin abinya pun turut ambil bagian dalam mandidik dan membesarkan anak..

  4. maksud ana adalah.. seyogyanya abi juga ikut bantu2 di rumah, tidak hanya dala pendidikan saja, tapi juga dalam mangku2 nya, nyuciin bajunya, nyuapin dll. kalo ada ikhwan bertanya, lalu siapa yang cari maisyah? jawabannya: ya antum juga..katanya aktifis, bisa kan meluangkan waktu buat keluarga? waktu kerja ikhwan umumnya sampai jam 4 sore dari jam 7 pagi,kalo akhwat? 24 jam! makanya ikhwan bantu bantu juga ya…afwan jiddan bila kurang berkenan

  5. iya ana setuju. afwan salah paham.. mudah2an semua ikhwan berpikiran sama dan Insya Allah RTnya rukun-rukun aja. wah.. Subhanalloh ya! ana membayangkan bagaimana Rasul dulu dalam membina RTnya? atau suami kita sangat mencontoh Rasulnya dalamsegala hal… pastinya baiti jannati itu betul-betul terbukti. mudah2an itu tak hanya mimpi belaka… do’akan ana dan keluarga ya!

  6. juga akhwatnya ya…jangan banyak nuntut tapi kitanya mlah berdiam diri hehe afwan

  7. ya iya atuh…salam

  8. manajemen waktu menjadi sangat penting dlm rumah tangga manakala sudah dikaruniai anak. karena amanah yang diemban pun semakin bertambah… hanya dengan meminta pertolongan Alloh kita akan merasa lebih mudah menghadapi segala

  9. supakaaatttt


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s