Pernyataan sikap FUI

Berikut kami sampaikan pernyataan sikap dari FUI terkait pernyataan adnan buyung nasution, anggota wantimpres yang malah secara emosional mengeluarkan pendapat yang emosional dan tidak bijaksana mengenai pelarangan Ahmadiyah. Sumber dari swaramuslim.com

FORUM UMAT ISLAM
Sekretariat: Gedung Menara Dakwah Lantai 3, Jl. Kramat Raya No. 45 Jakarta.
Telp. 021-8305848, 3909059, Fax. 021-8305848, 3103693

PERNYATAAN SIKAP
FORUM UMAT ISLAM (FUI)

TOLAK PENGHINAAN ADNAN BUYUNG NASUTION KEPADA ULAMA

Setelah melecehkan Forum Umat Islam (FUI) sebagai kelompok kecil bahkan dengan kata-kata segelintir masyarakat, Adnan Buyung Nasution, pembela utama gerombolan pemalsu agama Islam yang bernama Ahmadiyah, melakukan tindakan yang sangat menyakitkan umat Islam, yakni melakukan penghinaan kepada Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma’ruf Amin, di depan publik melalui wawancara yang disiarkan oleh Radio BBC pada hari Rabu, 7 Mei 2008 pukul. 18.00-18.30 WIB. Dalam siaran itu dengan kata-kata yang sangat kasar Buyung menyerang Kiyai Ma’ruf: ”Itu orang/manusia yang tidak punya harga diri atau rasa malu”.

Untuk itu, Forum Umat Islam (FUI) menyatakan:

  1. Menolak keras sikap kasar dan penghinaan Adnan Buyung Nasution kepada KH. Ma’ruf Amin sebagai ulama yang menjadi panutan umat Islam dan sebagai pejuang pemberantas kebatilan Ahmadiyah.

  1. Menuntut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera mencopot Adnan Buyung Nasution dari jabatan anggota Wantimpres karena sangat tidak etis sebagai anggota Wantimpres bidang hukum menghina dengan kasar KH Ma’ruf Amin yang merupakan anggota Wantimpres bidang agama.

  1. Menuntut Adnan Buyung Nasution untuk meminta maaf atas pernyataan kasar tersebut secara terbuka di semua media massa nasional, baik cetak maupun elektronik selama 7 (tujuh) hari berturut-turut.

  1. Menyerukan kepada umat Islam, khususnya para ulama dan pengurus MUI agar mewaspadai gerak-gerik dan manuver Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawannya yang merusak kehormatan para ulama.

Jakarta, 2 Jumadil Awwal 1429 H
8 Mei 2008

ATAS NAMA UMAT ISLAM INDONESIA
FORUM UMAT ISLAM

Ketua_________________________Sekretaris Jenderal

H. Mashadi____________________K.H. M. Al Khaththath

FORUM UMAT ISLAM :
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Syarikat Islam (SI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), YPI Al Azhar, Front Pembela Islam (FPI), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Majelis Adz Zikra, MER-C, PP Daarut Tauhid, Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pembela Muslim (TPM), Muslimah Peduli Umat (MPU), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Korps Ulama Betawi, Forum Tokoh Peduli Syariah (FORTOPS), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, IKADI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang, PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Missi Islam, Gema Pembebasan, Forum Silaturahim Antarpengajian (FORSAP)Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

adnan buyung, pembela ahmadiyah

tulisan ini merupakan copy paste dari http://www.swaramuslim.com. kami menyayangkan sikap adnan sebagai salah satu wantimpres yang begitu emosional menanggapi kasus ahmadiyah. ahmadiyah adalah aliran yang menyimpang dari Islam, jadi bukan mengatasnamakan agama baru. kebebasan beragama semestinya berarti bagi agama masing-masing, bukan untuk penyimpang sebuah agama. apakah ada kebebasan bagi penyimpang sebuah agama? boleh agama diselewengkan lalu bebas melangkah atas alasan kebebasan? tidak! semoga cukup kognitifitas kita untuk mencerna itu.

Adnan Buyung Anggap HTI, MMI dan FUI Bukan Wakil Masyarakat

Oleh : Redaksi 07 May 2008 – 7:00 pm


Pemerintah Gamang Penundaan SKB Ahmadiyah Ancam Konflik

imagePengacara Adnan Buyung Nasution mengaku siap memasang badan menghadapi organisasi Islam pendukung pembubaran Jemaah Ahmadiyah. Anggota Wantimpres ini bahkan mengaku rela mati demi membela Ahmadiyah. Pernyataan Adnan ini disampaikan kepada wartawan usai mengikuti rapat tukar pendapat dengan pemerintah mengenai draf isi SKB Tiga Menteri tentang Jemaah Ahmadiyah, Selasa (6/5) kemarin di Kantor Sesneg, Jl Majapahit, Jakarta.

“Kalau ada golongan garis keras, entah namanya FPI, HTI, MMI, FUI, yang selama ini sesumbar ngancam menyerbu Istana, mau menduduki Istana, coba kalo berani! Saya akan di situ membela pemerintah. Jangan coba-coba main adu kekerasan. Matipun untuk konstitusi nggak apa-apa!” tegas dia.

Lebih jauh, Buyung juga menganggap, kelompok-kelompok ini bukan wakil masyarakat.

“Mereka itu bukan wakil masyarakat. Segelintir orang saja jumlah mereka semua. Masa rakyat Indonesia mau diam semua? Harus kita bela negara dan konstitusi” seru Buyung dikutip detik.com.

Adnan Buyung beberapa hari ini ikut terpancing menyalahkan organisasi-organisasi Islam seolah-olah mereka biang kekerasan terhadap Ahmadiyah.

Forum Ukhuwah Islam (FUI) yang disebut-sebut Buyung tidak merepresantrikan masyarakat adalah gabungan forum yang terdiri lebih dari 30 ormas Islam.

Dalam setiap aksi FUI, biasanya terdiri dari gabungan puluhan ormas Islam. FUI yang terdiri dari elemen masyarakat, ormas Islam dan partai politik. Diantaranya; Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), KAMMI, Dewan Dakwah Islam (DDI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Ikatan Mahasiswa, FBR, KISDI, Persaudaraan Muslim Indonesia, PPP, PBB, PKS, PBR, LPPI, PERTI, Al-Ijtihadiyah, Hidayatullah dan banyak lagi.

Penyebutan Buyung dengan mengecilkan arti kelompok-kelompok Islam seolah-olah bukan wakil masyarakat mungkin akan menjadi masalah baru. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Pembela “kesesatan” Ahmadiyah mulai berani unjuk gigi. Ratusan orang pengikut, pembela dan aktivis liberal ambil bagian dalam demontrasi guna membela aliran Ahmadiyah yang dianggap sesat ulama di Jakarta.[afp]

Alisansi Kebangsaan mendesak pemerintah membubarkan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem). Lembaga ini dianggap peninggalan Orde Baru yang mengabaikan hak asasi manusia.

Dalam konfrensi pers di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Ahad (4/5), Aliansi Kebangsaan menyatakan rekomendasi yang dikeluarkan Bakor Pakem tak berdasar hukum, melainkan hanya berdasar tafsir agama dari pihak-pihak tertentu. Bakor Pakem pun tak berwenang menyatakan suatu ajaran itu terlarang atau tidak. Kasus Ahmadiyah, misalnya. Mereka mengancam akan memperkarakan Bakor Pakem bila Ahmadiyah benar-benar dilarang lewat surat keputusan bersama tiga menteri.

Pemerintah Gamang, Penundaan SKB Ahmadiyah Ancam Konflik
imageKetua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai pemerintah gamang dalam menghadapi aliran Ahmadiyah terkait dengan rencana penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang terus ditunda-tunda.

Ditegaskannya, NU menganggap Ahmadiyah sebagai aliran yang menyimpang dari ajaran Islam, namun apakah aliran ini boleh berdiri atau tidak adalah urusan negara.

“NU punya kewajiban meluruskan ajaran yang bengkok melalui pendekatan dakwah dan pencerahan agama dan jangan sampai ada orang NU yang masuk ke sana,” paparnya.

Sebelumnya, Ketua DPR Agung Laksono juga menyatakan agar kebijakan yang dibuat oleh pemerintah jangan sampai memicu kekerasan dan korban jiwa karena pengikut Ahmadiyah juga warga negara Indonesia.

Ancam Konflik
imageSementara itu, Majelis Syuro Tim Pengacara Muslim (TPM) yang terdiri dari sejumlah ulama, Selasa (6/5), menyampaikan pernyataan sikapnya terkait belum keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) mengenai status Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Indonesia. Para ulama, tersebut adalah Ustad Abubakar Baasyir, Habib Riziq Sihab, KH Athian Ali M. Dai, KH Thoha Abdurrahman, Habib Husein Assegaf, dan KH Ahmad Sukina.

Melalui pernyataan sikap yang dibacakan Abu Bakar Baasyir, mereka mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan keputusan resmi tentang pelarangan dan pembubaran Ahmadiyah. Pernyataan itu dibacakan dalam jumpa pers di Kantor Mahendradatta, kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (6/5) lalu.

“Mengingatkan pemerintah bahwa penundaan keputusan tersebut (SKB) di atas berpotensi untuk menciptakan konflik horizontal. Bila pemerintah tidak segera mengambil keputusan, dengan terpaksa kami akan meminta bantuan dunia internasional untuk menyelesaikan masalah ini,” demikian Baasyir membacakan salah satu butir pernyataan sikap yang merupakan hasil keputusan musyawarah para ulama.

Penyelesaian masalah itu, dipaparkan Baasyir, akan ditempuh dengan melibatkan Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabithah Alam Islami dan Kepala-kepala Negara Islam.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta pemerintah Arab Saudi melalui kedutaan besarnya di Jakarta, agar melakukan seleksi ketat terhadap setiap calon jamaah haji Indonesia.

“Hal ini untuk memastikan bahwa yang bersangkutan bukan Jamaah Ahmadiyah, dengan rekomendasi resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejalan dengan keputusan pemerintah Arab Saudi yang telah melarang Jamaah Ahmadiyah memasuki tanah suci,” lanjutnya.

Para ulama ini tidak menentukan batas waktu mengenai pengeluaran SKB tersebut. Namun, dengan tegas mereka menyatakan bahwa pemerintah harus bertanggungjawab terhadap ekses yang terjadi akibat penundaan itu. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Fitna, fenomena kecemburuan seorang yang berpikiran dangkal

tulisan ini merupakan copy paste dari situs http://www.eramuslim.com.  terkait dengan berbagai pertimbangan, link untuk film fitna tidak diikutsertakan dalam tulisan ini, juga mengingat adanya kekhawatiran pen-download-an film ini bukan untuk tujuan menguatkan ummat Islam dan mengingatkan umat agar tidak terprovokasi dan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang merugikan islam.

Terus Mendiskreditkan Islam, Barat Iri Lihat Islam Berkembang

Kamis, 10 Apr 08 09:04 WIB

Kirim teman

Pertambahan jumlah dan perkembangan umat Islam di seluruh dunia yang semakin pesat minimbulkan kecemburuan dari negara-negara barat, karenanya mereka berupaya mencari cara untuk mendiskreditkan Islam, dan berkonspirasi melunturkan akidah umat Islam.

“Salah satu cara untuk menjegal lajunya Islam adalah dengan memfitnah, menghasut dan menyudutkan Islam, agar Islam dibenci, dimusuhi dan dijauhi umat manusia, ” ujar Pimpinan Pondok Pesantren Assidiqiyah KH Noer Muhammad Iskandar menangapi kemunculan gerakan anti Islam melalui media.

Namun, menurutnya, mereka salah, karena semakin Islam ditekan dan dimusuhi, semakin banyak orang Barat yang justru bersimpati dan ingin mengetahui ajaran Islam, yang akhirnya mereka justru mendapat hidayah memeluk agama Islam.

Noer Iskandar mengatakan, Al-Quran telah menyebutkan perilaku Barat dalam hal ini kalangan Yahudi dan Nasrani merasa iri melihat perkembangan Islam yang semakin pesat. Karena itulah, dimuncullah gerakan-gerakan konspirasi yang mereka anggap strategis supaya Islam di dunia ini tersudut.

“Mereka memancing-mancing lewat berbagai cara, agar umat Islam itu berbuat anarkis. Mereka memunculkan kartun Nabi Muhammad SAW, film Fitna dengan rekayasa yang sangat negatif dan sebagainya, ” ujarnya.

Bukan hanya itu, lanjutnya, di lingkungan komunitas umat Islam, mereka berkonspirasi menciptakan agar umat Islam terjadi cekcok, saling bermusuhan. Misalnya dengan munculkan aliran baru yang menyesatkan, orang mengaku nabi setelah Rasulullah, serta kepercayaan baru yang sengaja ‘ditumbuhsuburkan’ dan tetap membawa Islam, sehingga citra buruk menimpa umat Islam.

“Semua itu tidak lain, bertujuan memancing umat Islam agar melakukan tindakan anarkis, ” tandasnya.

Noer Iskandar menyatakan, saat ini orang semakin cerdas berpikir, bahwa ada perbedaan antara tindakan Islam dan tindakan orang Islam, dalam arti orang sudah bisa melihat Islamnya itu seperti apa.

“Kalau ada orang yang mengaku beragama Islam dan melakukan tindakan kekerasan, itu bukan ajaran Islam yang benar, tapi itu pemahaman yang keliru. Jadi bukan Islamnya yang tidak benar, tapi orang Islamnya, ” pungkasnya.(novel/htol)

Menkes: Tidak Takut Ancaman Barat, Tetap Tuntut Keadilan WHO (copy paste)

ternyata ada juga ni pahlawan pemberani. sumber dari http://www.eramuslim.com

Minggu, 16 Mar 08 20:59 WIB

Kirim teman

Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari menegaskan, tetap menuntut keadilan dan kesetaraan terkait mekanisme sistem virus sharing avian influenza (AI) yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dunia Barat.

Karena itu, pihaknya mengaku tidak takut dengan segala ancaman dan tekanan dunia Barat terkait isi bukunya, Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung yang menjadi kontroversi di dunia.

”Saya dibilang manusia nomor dua paling kejam dan brengsek setelah Ahmadinejad. Tapi tidak apa-apa, ”kata Siti saat bedah buku dan penandatanganan bukunya di Plaza Senayan, Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, buku perdana yang ditulisnya itu menjadi pembicaraan dunia lantaran disebutkan bahwa sampel virus flu burung dari Indonesia dijadikan senjata biologis oleh pemerintah Amerika Serikat AS dan WHO.

Sejak saat itu, Siti berhasil memperjuangkan mekanisme sistem virus sharing yang adil, transparan, dan setara. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. ”Padahal, mereka belum baca buku saya seutuhnya, tetapi sudah menuduh seperti itu, ”tuturnya.

Perjuangan Negara Dunia Ketiga

Menurut Menkes, apabila semua orang sudah membaca keseluruhan isi buku yang dalam versi Inggris berjudul It’s Time for the World to Change tersebut, pasti akan makin sayang padanya. Ahli jantung ini mengatakan, hanya ingin menginformasikan kenyataan apa saja yang terjadi di masyarakat. ”Buku saya ini bukan fiksi atau imajinasi saya, tetapi kenyataan seperti buku harian hidup saya, ” tegasnya.

Siti Fadilah Supari mengungkapkan, saat ini sistem ekonomi dunia telah berubah menjadi politik hegemoni, di mana negara-negara maju dapat dengan mudahnya menindas negaranegara dunia ketiga.

Namun, Ia merasa ada hikmah besar di balik semua kejadian yang menimpanya belakangan ini. ”Mungkin kalau ingin jadi tokoh besar atau selebriti harus begitu. Siap dipuja dan dibenci, ”imbuhnya.

Sementara itu, peneliti Departemen Pertahanan Isro Samiharjo mengatakan, bahwa pihaknya akan tetap waspada terhadap ancaman virus biologi yang mengancam Indonesia.

Isro mengakui bahwa Menkes RI adalah wanita hebat yang berhasil memperjuangkan kepentingan masyarakat dunia ketiga. ”Di negara maju memang standar ganda seperti itu masih terus berlangsung, ” ujarnya. (novel/siol)

Misi Pluralisme Di Balik Novel Ayat-ayat Cinta

Ada sebuah perspektive lain ni tentang ayat2 cinta (saya tetep belum nonton juga hehe) dari http://www.swaramuslim.com.. diambil dari rislah mujahidin edisi 17 shafar 1429 H. selamat berdiskusi
imagePesona Novel Ayat-ayat Cinta telah menjulangkan nama penulisnya, Habiburrahman el-Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika. Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad, Thaha Husein dan lainnya, yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis, memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya. Membaca novel Ayat-ayat Cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama?

LAHIR di Semarang, Kamis 30 September 1976, Habiburrahman el-Shirazy memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen; sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Anwar, Mranggen, Demak, di bawah asuhan KH Abdul Bashir Hamzah.

Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta, untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pelajaran ke Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo, yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Kembali ke tanah air pada pertengahan Oktober 2002, ia diminta ikut mentashih Kamus Populer Arab-Indonesia yang disusun oleh KMNU Mesir dan diterbitkan oleh Diva Pustaka, Jakarta (Juni 2003). Ia juga menjadi kontributor penyusunan Ensiklopedi Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Pemikirannya (terdiri atas tiga jilid diteritkan oleh Diva Pustaka, Jakarta, 2003).

Antara tahun 2003-2004 ia mendedikasikan ilmunya di MAN I Jogjakarta. Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen Lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shiddiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya-karyanya serta pesantren Karya dan Wirausaha Basmala Indonesia bersama adik dan temannya.

Dengan reputasi demikian, beralasan bila sebagian pembaca mengidolakannya bagai HAMKA muda. Seperti juga dalam bidang pemikiran dan politik, khalayak Indonesia pernah menyematkan julukan Natsir muda pada diri Nurcholish Madjid. Apalagi penulis novel Ayat-ayat Cinta ini cukup berprestasi internasional yang lama menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir, dan akrab dengan budayawan serta novelis di Mesir yang terkenal sebagai sarang pembinaan zionis.

Turis dan Ahludz Dzimmah
Begitu gegap gempita publikasi novel Ayat-ayat Cinta, menyebabkan banyak pembaca kehilangan daya kritis. Sehingga, ketika nyala api pluralisme menerobos masuk imajinasi penulis, tak dirasakan adanya. Pada mulanya, barangkali sekadar titipan ide, namun jelas titipan dimaksud menjadi ide sentral rangkaian kisah cerita novel Ayat-ayat Cinta.

Pada bagian ketiga di bawah judul Kejadian di Dalam Metro misalnya, berlangsung cekcok antara rombongan turis Amerika dengan penumpang asli Mesir yang meledakkan amarahnya kepada bule-bule itu, sebagai ganti kejengkelan mereka kepada pemerintah Amerika yang arogan dan membantai umat Islam di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Namun, dalam cekcok tersebut penulis menyalahkan orang Mesir, dan memosisikan turis kafir yang berkunjung ke negara-negara berpenduduk Islam seperti Mesir sebagai ahludz dzimmah yang memiliki hak-hak kekebalan diplomatik, dengan memanipulasi dalil agama.

“Ahlu dzimmah adalah semua non Muslim yang berada di dalam negara kaum Muslimin, masuk secara legal, membayar visa, punya paspor, hukumnya sama dengan ahlu dzimmah, darah dan kehormatan mereka harus dilindungi,” katanya.

Sebagai pembenaran atas pembelaannya kepada bule Amerika itu, penulis mencomot sebuah hadits: “Barangsiapa menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku, dan siapa yang menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah.”

Padahal, menempatkan turis asing sebagai dzimmi di negeri Muslim bukan saja tidak memiliki argumentasi syar’iyah, tetapi juga merusak tatanan syar’i secara keseluruhan. Persoalannya, bukan pada perlakuan kasar atau halus terhadap turis, melainkan pada posisi yang disematkan, bahwa sesungguhnya kedudukan turis tidak sama dengan ahludz dzimmah, baik hak maupun kewajibannya. Pembayaran visa tidak bisa disamakan dengan jizyah. Sebab, legalitas hukum bagi turis dan ahludz dzimmah memiliki perbedaan-perbedaan, sehingga mengakibatkan konsekuensi hukum yang berbeda pula.

Perbedaan itu antara lain, pertama, ahludz dzimmah (dzimmi) adalah orang kafir yang menjadi warganegara Negara Islam. Sedangkan turis tidak memiliki hak kewarganegaraan, tetapi hanya memiliki hak pelayanan sebagai tamu. Kedua, dzimmi mempunyai hak dan kewajiban sebagai warga negara. Bilamana pemerintah tidak bisa memenuhi hak kewarganegaraan orang dzimmi, maka mereka tidak wajib lagi membayar jizyah (pajak). Sedangkan pembayaran visa bagi turis yang berkunjung ke sebuah negara Islam tidak dapat dianggap sebagai jizyah, karena orang Islam yang bukan penduduk negara yang dikunjunginya juga harus membayar visa. Apakah orang Islam yang berkunjung ke negara Islam juga dianggap dzimmi oleh pemerintah negara tempat dia berwisata?

Ketiga, pada keadaan darurat, pemerintah negara Islam dapat mewajibkan penduduk dzimmi untuk menjalani wajib militer. Berbeda dengan turis, apabila datang ke suatu negara yang sedang dalam keadaan darurat perang tidak bisa dipaksa ikut wajib militer bagi negeri yang dikunjunginya.

Perbedaan prinsip di atas, nampaknya kurang dipahami oleh penulis novel, dan lebih terpesona dengan misi kemanusiaan global yang menjadi gerak nafas pluralisme; sehingga menghilangkan kewaspadaan. Boleh jadi turis itu justru musuh yang sedang menyamar, meneliti, atau menjalankan misi intelejen. Novelis muda lulusan filsafat Universitas Al-Azhar, Cairo, itu bergaya bagai ulama besar ahli fiqih dan ahli hadits berkaliber dunia, lalu mengintroduksi hadits dzimmi sebagai ‘ijtihad cemerlang’.

Untuk menetralisir kecurigaan, dan menangkal virus berbahaya terutama bagi pembaca muda yang jadi sasaran utama novel ini, sebenarnya penulis dapat mengimbanginya dengan wacana pemikiran yang adil, bahwa dalam banyak kasus kedatangan turis-turis kafir di negeri Islam membawa dampak kerusakan moral dan sosial di tengah masyarakat muslim. Bahkan sebagian sengaja disusupkan sebagai mata-mata terselubung. Fakta ini dapat terlihat jelas dan ditemukan oleh para pejabat intelejen negara bahwa turis biasa dipakai kedok olah para agen intelejen untuk menjalankan operasinya. Namun, penulis lebih mendahulukan ‘baik sangka’ daripada waspada, suatu sikap yang telah membuat umat Islam berulangkali tertipu dan dininabobokkan gagasan harmonisasi antar umat beragama, tanpa mempertimbangkan akibatnya yang berbahaya.

Namun penulis alpa melakukannya. Maka, tidak aneh bila terdapat pembaca kritis mempertanyakan, misi siapa yang hendak dipasarkan oleh penulis di balik novelnya yang best seller tersebut? Dilihat dari simplifikasi penggunaan dalil-dalil agama untuk menopang argumentasi, dan memanipulasi tujuan politik yang halus, merupakan ciri khas komprador zionisme yang bergentayangan di tengah-tengah masyarakat Muslim. Maka, bukan mustahil novel Ayat-ayat Cinta yang sudah 30 kali cetak ulang dengan tiras 500 ribu eksemplar, menjadi pembuluh darah halus yang mengalirkan misi pluralisme agama yang telah diformat oleh zionisme internasional dan dipasarkan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Tanpa pretensi ‘buruk sangka’ terhadap novelis muda Habiburrahman, kisah sampingan yang ditampilkan berkaitan dengan turis Amerika itu, kita perlu mewaspadai adanya celupan misi zionis dalam obrolan seperti Kejadian Di Dalam Metro itu. Sudah banyak pemuda yang diperalat untuk mengembangkan faham toleransi dan pluralisme agama melalui tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap cemerlang dan berpengaruh.

MANAJEMEN WAKTU

Demi Waktu, Sesungguhnya Manusia

 Berada dalam Kerugian

Oleh: Putrasulung

 

I. LATAR BELAKANG

            Rasanya dunia akan berputar dalam keabadian. Rasanya tak ada kata akhir dalam perjalanan waktu. Rasanya kehidupan datang dan pergi silih berganti sebagai suatu kemonotonan yang sama sekali tak bernilai dan menjadi „acara ceremonial“ dalam pandangan kita, rasanya kita masih kan hidup dalam waktu lama, kematian… tak lain  adalah tamu yang kan berkunjung seribu tahun lagi. Masih lama…. rasanya….

            Orang-orang yang merasa “tahu” dan “paham” mengatakan, bahwa usia harapan hidup orang Indonesia adalah sekitar 60 tahun. Dibandingkan dengan keabadian, 60 tahun hanyalah satu titik temporer yang amat sebentar. Abdul Hamid Al Bilali mengungkapkan  pemahamannya akan ayat-ayat suci Rabbul Izzati, , bahwa beratnya siksa hari kiamat membuat manusia lupa semua perbuatan mereka di dunia. Di antara bentuk lupa mereka ialah mereka berselisih pendapat dan tidak ingat lagi berapa lama sesungguhnya mereka dulu hidup dunia.

 

(yaitu) di hari sangsakala ditiup dan kami kumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka,’Kalian tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sepuluh (hari)’.“

Thaha:102-103

 

Kelompok lainnya berpendapat, sebenarnya hidup di dunia tidak lebih dari satu hari saja1,sedangkan kelompok lain lagi berpendapat hanya setengah hari2, dan ada kelompok yang menandaskan sebenarnya kurang dari setengah hari.

Wahai para aktifis mahasiswa, ketahuilah bahwa waktu yang sekejapan mata ini berarti sekali dalam menentukan tempat kita di alam keabadian kelak. Isi yang kita tuangkan dalam usia kita di dunia merupakan warna yang akan kita tuangkan dalam kehidupan hakiki setelah kehidupan fana ini.

Bayangkanlah bahwa kita berada di suatu daerah, dan kita mendapat kabar bahwa dalam satu jam lagi, daerah tersebut akan dilanda gempa besar dan gelombang tsunami yang jauh lebih dahsyat dari tragedi Aceh. Satu jam dari sekarang… kira-kira, apa yang akan anda lakukan dalam satu jam ini?… Tentu setiap detik dari satu jam ini akan kita isi dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Menyiapkan bahan makanan dan pakaian untuk dibawa mengungsi, menyiapkan kendaraan, menentukan rute evakuasi ke tempat yang tinggi dan jauh dari pantai, mengkonfirmasi sanak saudara… yang pasti tak ada opsi untuk berdiam diri, atau melamun, atau bermain…  

Permasalahan yang kemudian mungkin muncul terumuskan dalam beberapa pertanyaan berikut:

· Berapa jumlah kegiatan yang harus kita lakukan dalam berapa lama waktu?

· Bila ada beberapa kegiatan dalam waktu sempit, bagaimana mengatasinya?


Ilustrasi ini merupakan gambaran dari kehidupan seorang aktifis mahasiswa. Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai peranan yang strategis dan essensial dalam kehidupan sebuah bangsa dan negara. Mahasiswa diharapkan mampu dan mampu menuansai lingkungannya dengan warna yang indah, ketika pihak yang mestinya memperindah lingkungan malah merusaknya, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata pada masyarakat yang tak mampu berkata-kata, diharapkan mampu menyumbang terhadap pihak yang gamang, memberi senyum pada yang manyun, dan membantu yang tak mampu. Di lain pihak, mahasiswa juga manusia, dengan segala kendala, kekurangan permasalahan dan kewajiban sebagai individu dewasa yang mandiri. Pertentangan kedua jenis kepentingan ini dalam kehidupan seorang aktifis mahasiswa di dunia kampus, terwakili dengan idiom organisasi atau akademik? Semoga hari ini diskusi kita akan menghilangkan kata ‚atau’ dalam idom tersebut, dan menggantinya dengan kata ‚dan’.

 

 

 

II. WAKTU DAN AKTIFITAS

            Mengatur waktu akan senantiasa terkait erat dengan pengaturan kegiatan. Kegiatan tertentu kita pilih karena sesuai dengan ketersediaan waktu kita, dan kita menyesuaikan jadwal kegiatan kita -dengan kata lain mengatur waktu- bila kita diamanahi suatu kegiatan tertentu. Hal ini terkait pula dengan status mahasiswa dengan berbagai atribut dan status yang menyertainya.

            Mahasiswa sebagai seorang pembelajar, aktifis dan individu mandiri tentunya memiliki berbagai agenda kegiatan yang sesuai dengan tuntutan statusnya. Kerap kali tugas sebagai seorang staff Departemen Pendidikan BEM UPI misalnya, menerabas perencanaan kegiatan belajar menghadapi Ujian Akhir Semester, atau keinginan kita untuk pulang sekedar melepas rindu dengan keluarga terpaksa dibatalkan untuk kesekian kalinya karena kepanitian Seminar Mahasiswa dan Politik menuntut kehadiran kita sebagai ketua pelaksana dalam rapat yang rasanya sudah lebih dari ratusan kali diselenggarakan. Persilangan kepentingan inilah yang seringkali menimbulkan tekanan psikologis, sehingga melahirkan kejenuhan dan kekecewaan dalam berkegiatan. Lebih buruk lagi, banyak aktifis yang pada akhirnya meninggalkan begitu saja amanah yang diembankan kepadanya, seakan amanah adalah sepotong donat yang bisa dimakan apabila kita mau dan ditinggalkan begitu saja kalau kita merasa enggan memakannya.

Apabila ditelaah dengan lebih jeli, persilangan kepentingan yang seakan saling bertubrukan tersebut terjadi karena medan yang akan kita lalui belum dipetakan dengan baik pada saat kita akan melaluinya, dengan kata lain, signifikan artinya bagi seorang mahasiswa untuk mempunyai the whole picture suatu kegiatan sebelum ia memutuskan untuk terjun dalam kegiatan tersebut. Seorang bijak melantunkan nuansa keindahan ketika ia mengatakan bahwa gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Dalam perencanaan kegiatan inilah dibutuhkan kapabilitas manajemen aktifitas.  Manajemen aktifitas ialah kemampuan memilah, merencanakan, mengatur dan melaksanakan berbagai macam kegiatan yang memang sudah menjadi keharusan untuk diejawantahkan.

 

 III. MANAJEMEN WAKTU

Ada beberapa hal yang sebaiknya kita telaah terlebih dahulu sebagai langkah awal usaha kita mengatur waktu yang ada. Kita sebut saja misalnya dengan tahap I, diantaranya ialah:

  1. Apa saja amanah (kegiatan) yang tengah kita pegang/jalani saat ini dan apa kegiatan yang ingin kita pelajari.
  2. Identifikasi tiap kegiatan, sehingga kita mengenali kendala, kemudahan, ketertarikan, rentang waktu pengembanan amanah/pelaksanaan kegiatan dan manfaat kegiatan (activity profile).
  3. membuat diagram irisan waktu antar kegiatan.
  4. lakukan re-orientasi tujuan.
  5. fixing kegiatan yang akan dijalani

Kegiatan selanjutnya adalah membuat penjadwalan kegiatan. Sebagian terbesar kesulitan dalam pengaturan waktu, yaitu sebesar 60%3 ada pada tahap pertama seperti telah diuraikan di atas. Satu hal yang harus dicatat dalam penjadwalan kegiatan ialah menentukan prioritas. Kegiatan yang menjadi prioritas ditempatkan pada urutan awal. Namun yang harus dipahami setiap aktifis mahasiswa, kegiatan yang menjadi prioritas tidak sama denga kegiatan utama4. Semua kegiatan harus dipandang utama karena pertanggungjawabannya sama. Kelalaian dalam satu kegiatan dengan alasan apapun, termasuk karena lebih sibuk di satu kegiatan lainnya, akan berimbas pada pembentukan pandangan orang pada kita sebagai orang yang kurang bertanggungjawab dan tidak amanah, dan ingatlah, bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amanah yang kita emban. Hendaknya masalah prioritas ini juga ditelaah pada tahapan membentuk activity profile.

Penjadwalan, atau tahap II, bisa dilakukan melalui tahap sebagai berikut:

  1. Terakan kegiatan yang menjadi prioritas beserta alokasi waktunya. Inilah rencana kegiatan yang cenderung bersifat permanen. Merubah rencana kegiatan prioritas hampir tidak bisa dilakukan mengingat arti dan sifat kegiatan tersebut yang kaku dan essensial. Pada umumnya, kegiatan prioritas adalah kegiatan yang terkait akademik yang perubahan jadwal pelaksanaannya tidak terletak di tangan kita dan umumnya bersifat permanen.
  2. Terakan kegiatan lainnya secara tematis. Missal kegiatan 1, kegiatan 2, dst.
  3. Selalu upayakan peningkatan efektifitas dalam pengembanan kegiatan untuk menciptakan waktu kosong, yang bisa kita isi dengan kegiatan tambahan.

Tahap I disusun untuk menjaga semua kegiatan berjalan pada relnya sehingga tidak terjadi tumbukan antar lebih dari satu kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Namun demikian, sudah tidak asing lagi bahwa beragam kegiatan di kampus sangat berpotensi bertumbukan. Maka dalam ini dibutuhkan pemahaman dan etika kita untuk menentukan solusinya.

 

 

 

3 Fatah Asyari dalam Seminar Psikologi SMUN I Cianjur Th. 1997

4 Makalah Manajemen Aktifitas LKM BEM UPI Th. 2004

Berikut adalah beberapa saran yang bisa diterapkan untuk mengasah kemampuan dan menyiasati pengaturan waktu:

  1. Pahami betul lahan amanah kita.
  2. Identifikasi medan dari tiap-tiap amanah.
  3. Upayakan pemecahan masalah.
  4. Perdalam kapabilitas.
  5. Buat group of references.
  6. Manfaatkan ciri khas.
  7. Kreatif.

 

 

 IV. PENUTUP

            Secuil pemikiran dari seorang bodoh ini diharapakan mampu memberikan kebermanfaatan bagi saudara-saudara yang dicintainya. Semoga ALLAH menjadikan persaudaraan antara kita kuat dan abadi. Kami memohon maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan. Semoga kita termasuk  barisan orang yang akan menghadap ke majelisNYA dengan anugerah kemuliaan seorang mujahid. Amin.

 

 

 

Ketika Yesus Dilecehkan (copypaste)

berikut adalah sebuah artikel dari http://www.eramuslim.com mengenai pelecehan Yesus dalam sebuah acara televisi. acara ini mendapat reaksi dari kaum evangelis di Inggris. yup! kebebasan semestinya tidak berarti siapapun boleh melecehkan -apalagi- kepercayaan seseorang. ini adalah bukti bahwa masyarakat barat tidak siap dengan kebebasan semacam ini. maka sudah semestinya jangan pula menghina Rasulullah SAW, yang demikian melekat di hati kami.

berikut ulasannya:

Penganut agama manapun pasti tidak senang kalau kesucian agamanya dinodai. Christian Voice-kelompok lobi agama Evangelis di Inggris mengacam akan bertindak sendiri jika aparat penegak hukum di Inggris tidak menindak sebuah acara televisi yang telah melecehkan Yesus dan Bunda Maria.

Christian Voice menilai acara “Jerry Springer: The Opera” sebuah acara musikal yang diadaptasi dari acara televisi AS yang sangat populer di AS, telah melecehkan Kristus dan Perawan Maria. Dalam acara tersebut, Yesus Kristus digambarkan sebagai seorang homoseksual.

Organisasi Kristen Evangelis itu sudah mengajukan gugatan pribadi terhadap pimpinan BBC Mark Thompson dan produsernya Jonathan Today, tapi gugatan itu ditolak di tingkat pengadilan rendah dan tinggi. Gugatan melalui Law Lords-pengadilan tertinggi di Inggris-juga ditolak dengan alasan alasan-alasan hukum yang diajukan pihak Christian Voice tidak kuat.

Penolakan itu membuat Christian Voice marah. “Jelas-jelas Yesus Kristus, Perawan Maria dan Tuhan sedang dilecehkan di atas panggung dan oleh para pekerja televisi bebas dari sanksi hukum, ” kata Ketua Christian Voice, Stephen Green.

“Umat Kristen sekarang akan mengambilalih persoalan ini dan akan menanganinya sendiri, ” tukas Green.

Kasus ini mencuat bersamaan dengan hangatnya perdebatan mengenai undang-undang untuk kasus-kasus penghinaan. Pemerintah Inggris mengusulkan amandemen Undang-Undang Imigrasi dan Pidana mengganti aturan hukum yang mengatur tentang kasus-kasus penghinaan dan perusakan nama baik. Amandemen ini rencananya akan mulai dibahas minggu depan. (ln/iol)